Tuesday, September 25, 2012

Strategi Peningkatan Produksi Ternak Besar Berbasiskan Pengembangan Padang Penggembalaan di Kabupaten Poso

Peningkatan Produksi ternak besar berbasiskan pengembangan padang penggembalaan di Kabupaten Poso hanya dapat dilakukan pada wilayah Lore dan Pamona, yang mempunyai potensi padang pengembalaan alam (PPA) cukup luas yaitu ± 44.000 ha,  dengan topografi relatif datar sampai landai (wilayah Lore) dan lebih berbukit-bukit (wilayah Pamona), yang ditumbuhi hijauan dengan tinggi hamparan antara 15 – 100 cm tanpa pepohonan. 
Secara umum, PPA tersebut telah dimanfaatkan masyarakat secara berkelompok untuk usaha peternakan sapi dan kerbau.  Pemeliharaan ternak pada PPA ini dilakukan secara komunal (communal grazing), ternak dilepas merumput setiap saat sepanjang tahun (continous grazing) tanpa dikandangkan.  Pada waktu tertentu, khususnya saat hijauan mengalami penuaan, pembakaran lahan dilakukan dengan tujuan menyediakan hijauan pakan yang disukai ternak.
Berdasarkan beberapa hasil penelitian; proporsi komponen vegetasi (komposisi botanis) PPA wilayah Lore dominan rumput (99%), sedikit gulma (1%) serta tidak terdapat legum, sedangkan PPA wilayah Pamona rumput 46%, gulma 47% dan legum 7%; produksi hijauan pakan cukup baik pada PPA wilayah Lore yaitu ± 2.300 kg/BK/ha dan PPA wilayah Pamona 1.845 kg/BK/ha.
Walaupun produksi hijauan pakan cukup besar, akan tetapi rumput yang dominan tumbuh di PPA tersebut adalah Themeda triandra (Kangaroo grass/rumput merakan lanang), termasuk jenis hijauan dengan produktivitas kurang baik karena hanya disukai ternak saat muda (palatabilitas rendah), sehingga menyebabkan jumlah hijauan yang dapat dimakan ternak (hijauan tersedia) jauh lebih sedikit dari produksi hijauan pakan yang ada (± 20%), serta rendah kandungan protein kasarnya (2,7 – 6,9%).  Hal ini mengakibatkan jumlah ternak yang dapat ditampung per satuan luas lahan (carrying capacity) pada PPA tersebut rendah yaitu 0,5 UT/ha/tahun PPA wilayah Lore dan 0.19 UT/ha/tahun wilayah Pamona.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, strategi peningkatan produksi ternak besar berbasiskan pengembangan padang penggembalaan di Kabupaten Poso, dapat dilakukan melalui perbaikan produktivitas hijauan padangan untuk meningkatkan produksi hijauan pakan, baik kualitas (kandungan gizi) maupun kuantitasnya (hijauan tersedia), yaitu berupa introduksi tanaman produktif seperti jenis rumput unggul dan tanaman legum, serta penanaman pohon multi-fungsi.
Introduksi tanaman produktif dengan hijauan bermutu, memungkinkan peningkatan konsumsi dan produksi ternak serta dapat menampung lebih banyak ternak (Amar, 2007). Peningkatan lebih nyata dapat diperoleh jika yang diintroduksi adalah legum, karena kelompok tanaman ini dapat memberikan kontribusi nitrogen dan bahan organik tanah, diikuti perbaikan daya ikat air (Gramshaw, 1995; Amar, 2007).  Beberapa hasil penelitian dalam Williamson dan Payne (1993) yang melaporkan peningkatan nitrogen, antara lain : Bryan (1962) bahwa campuran tanaman legum dan rumput (Stylosanthes bojeri, Demosdium uncinatum dan Indigofera spicata) di Australia bagian tropik, menghasilkan nitrogen berturut-turut 114, 180 dan 264 kg/ha/tahun; Moore (1962) di Nigeria bagian tropik lembab, kombinasi rumput bintang Afrika (Cynodon plestostachyus) dan centro yang berumur 2 tahun menghasilkan nitrogen 279 kg/ha; Henzell dkk (1966) di Australia, Leucaena leucocephala umur 4 tahun menghasilkan nitrogen 578 kg/ha dan Stylosanthes humilis 109 kg/ha.
Disamping kontribusi nitrogen, tanaman legum juga dapat memperbaiki penutupan tanah, meningkatkan produksi dan kualitas hijauan padang penggembalaan, yang pada gilirannya meningkatkan produktivitas ternak (Gramshaw, 1995).  Berdasarkan hasil penelitian di Australia, usaha yang paling berhasil untuk memperbaiki padang penggembalaan alam adalah dengan menanam legum tanpa menghilangkan rumput alam yang ada (Reksohadiprodjo, 1981).  Stocker (1991) menunjukkan bahwa peningkatan padang penggembalaan dengan menabur legum memberikan nilai tambah AU$ 300 juta per tahun dalam bentuk peningkatan produksi sapi potong.  Edy dan Gillard (1985), introduksi tanaman legum dari jenis Stylosanthes disertai pemupukan super fosfat meningkatkan produksi ternak sebanyak 20 kali lipat, berupa 10 kali lipat peningkatan daya tampung dan 2 kali lipat pertambahan berat badan per ekor ternak.
Selain introduksi tanaman produktif, penanaman pohon juga sangat bermanfaat untuk lingkungan pertumbuhan bagi tanaman dibawahnya, antara lain menurunkan suhu tanah dan udara serta laju evaporasi (Amar, 2007); meningkatkan kesuburan tanah karena perbaikan siklus unsur hara melalui daun dan materi lainnya dari pohon (Belsky dkk, 1993; Okeke dan Omaliko, 1994; Smit dan Swart, 1994; Srivastava dan Ambasht, 1995).  Manfaat tersebut semakin nyata jika pohon yang ditanam bermanfaat ganda atau multi fungsi, jumlah dan pengaturan penanaman tepat, serta utamanya jenis legum pohon (Amar, 2007).  Multi fungsi tersebut meliputi fungsi konservasi dan kesuburan tanah, sumber hijauan pakan, pagar hidup, naungan, sumber kayu, serta dengan pengaturan yang direncanakan sebagai pemecah angin/api. Legum pohon dengan berbagai manfaatnya di dalam sistem pertanian tropik telah banyak diteliti dan dilaporkan, terutama yang paling populer adalah Leucaena leucocephala, serta yang lainnya dari genus Gliricidia, Sesbania, Albizia dan Calliandra (Skerman dkk, 1988; Gutteridge dan shelton, 1994).
Kesimpulan : Strategi peningkatan produksi ternak besar di Kabupaten Poso antara lain dapat dilakukan melalui perbaikan produktivitas hijauan padang penggembalaan yaitu berupa kegiatan introduksi tanaman produktif (rumput unggul, tanaman legum, serta penanaman pohon multi-fungsi).

No comments:

Post a Comment